Pernah kebayang tinggal di kota yang dari awal memang nggak dirancang seperti kota pada umumnya? Bukan sekadar punya gedung futuristik atau mal mewah, tapi seluruh konsep hidupnya dibuat berbeda. Salah satu contohnya adalah Masdar City di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Kota ini sejak awal dirancang sebagai eksperimen kehidupan urban yang lebih hemat energi, minim kendaraan pribadi, dan sangat mengandalkan teknologi. Jadi, kalau kota biasa mengikuti kebutuhan manusia, kota seperti ini justru mencoba membentuk cara manusia hidup.
Beberapa alasan kenapa kota seperti Masdar City terasa seperti dibuat untuk orang yang memang nggak mau menjalani kehidupan kota biasa:
- Kota tanpa dominasi mobil pribadi. Area inti Masdar dirancang untuk pejalan kaki dan transportasi berkelanjutan. Konsep ini muncul dari gagasan bahwa kota tidak harus selalu dibangun mengelilingi mobil. Secara urban planning, mengurangi ketergantungan kendaraan bisa menciptakan ruang publik yang lebih nyaman dan menekan emisi.
- Bangunannya sengaja dibuat “melawan” panas gurun. Jalan dan bangunan diatur untuk memanfaatkan bayangan serta aliran angin. Area pusatnya bahkan berada di atas podium sekitar tujuh meter, sementara lorong-lorong sempit membantu menciptakan kondisi yang lebih teduh.
- Teknologi bukan sekadar aksesori. Masdar sejak awal dirancang sebagai pusat inovasi teknologi dan keberlanjutan. Bahkan konsep awalnya menggunakan sistem Personal Rapid Transit berupa kendaraan otomatis untuk membantu mobilitas tanpa memenuhi permukaan kota dengan kendaraan konvensional.
- Bangunan dipaksa lebih hemat energi dan air. Masdar menyebut bangunan di kawasan tersebut dirancang menggunakan setidaknya 40 persen lebih sedikit energi dan air dibandingkan bangunan sejenis. Artinya, desain gedungnya memang ikut menentukan pola hidup penghuninya.
- Kota ini sebenarnya adalah eksperimen sosial juga. Ketika sebuah kota dibangun dari nol dengan aturan, teknologi, dan desain yang sudah ditentukan sejak awal, yang diuji bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga apakah manusia benar-benar nyaman hidup dengan pola tersebut. Ini yang membuat konsep kota futuristik jauh lebih menarik daripada sekadar melihat gedung-gedung canggih.
Yang paling menarik, konsep seperti ini menunjukkan bahwa “kota masa depan” belum tentu berarti semakin ramai, semakin tinggi, dan semakin banyak kendaraan. Masdar justru mencoba membalik logika tersebut. Jalan yang teduh, bangunan rapat, energi terbarukan, transportasi alternatif, dan pengurangan kendaraan pribadi menjadi bagian dari eksperimen tersebut. Namun, perjalanan Masdar juga tidak sepenuhnya mulus. Target awalnya sebagai kota yang benar-benar netral karbon dan tanpa limbah kemudian mengalami perubahan karena tantangan ekonomi, teknologi, serta proses pembangunan yang jauh lebih kompleks daripada rancangan di atas kertas.
Jadi, kota seperti Masdar sebenarnya bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah percobaan tentang bagaimana manusia mungkin hidup di masa depan. Dan pertanyaan besarnya bukan lagi “seberapa canggih sebuah kota?”, melainkan: apakah manusia benar-benar mau hidup dengan cara yang sejak awal sudah dirancang oleh kotanya?