Kalau dengar rumah bawah tanah, yang kebayang mungkin bunker atau tempat persembunyian saat perang. Tapi di Coober Pedy, Australia Selatan, hidup di bawah tanah justru jadi cara normal buat tinggal. Kota kecil di tengah gurun ini terkenal dengan rumah bernama dugout, yaitu hunian yang dibuat dengan menggali bagian dalam bukit atau tanah keras. Uniknya, alasan utamanya bukan perang, melainkan cuaca gurun yang ekstrem dan sejarah pertambangan opal. Bahkan saat ini, sekitar setengah hingga 60 persen penduduk Coober Pedy disebut tinggal di bawah permukaan.
Beberapa fakta unik tentang kehidupan bawah tanah di Coober Pedy:
- Bukan bunker, tapi rumah beneran. Dugout di Coober Pedy bisa memiliki kamar tidur, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, bahkan fasilitas seperti rumah biasa. Beberapa hunian bahkan memiliki luas hingga sekitar 450 meter persegi.
- Alasan utamanya karena panas gurun. Suhu permukaan Coober Pedy bisa sangat ekstrem dan pada kondisi tertentu dilaporkan mencapai sekitar 52°C. Berada di dalam tanah membuat penghuni tidak langsung terkena perubahan suhu permukaan yang drastis.
- Tanah berfungsi seperti “AC alami”. Lapisan batu dan tanah memiliki massa termal tinggi, sehingga perubahan suhu di dalam ruang bawah tanah berlangsung jauh lebih lambat dibandingkan udara luar. Karena itu, ruangan dugout dapat mempertahankan suhu yang relatif stabil, sekitar 23–25°C menurut sumber lokal.
- Awalnya berasal dari aktivitas tambang. Banyak hunian bawah tanah pada masa awal sebenarnya merupakan lubang bekas pencarian opal yang kemudian dikembangkan menjadi tempat tinggal. Jadi, orang-orang di sana bisa dibilang mengubah lokasi kerja menjadi rumah.
- Rumahnya bisa saling terhubung. Karena struktur tanah di beberapa area cukup stabil, keluarga tertentu bahkan memperluas hunian dengan membuat terowongan yang menghubungkan beberapa ruang atau bangunan.
- Ada fasilitas umum yang ikut “turun ke bawah”. Coober Pedy bukan cuma punya rumah bawah tanah. Gereja, hotel, museum, toko, hingga fasilitas wisata juga dapat ditemukan di bawah permukaan.
Yang paling menarik, kehidupan bawah tanah di Coober Pedy sebenarnya merupakan contoh bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan tanpa harus melawannya secara ekstrem. Secara ilmiah, tanah dan batuan di sekeliling ruang bawah tanah bekerja sebagai isolator termal alami. Panas dari permukaan tidak langsung masuk ke ruangan, sementara suhu di dalam tanah berubah lebih lambat. Penelitian mengenai kondisi hunian bawah tanah Coober Pedy juga menunjukkan bahwa desain seperti ini memang berkaitan erat dengan kebutuhan menghadapi iklim panas dan kering Australia. Namun, tinggal di bawah tanah bukan berarti tinggal tanpa tantangan. Ventilasi, kestabilan struktur, kelembapan, pembuangan air limbah, hingga desain atap dan pilar harus diperhitungkan dengan serius.
Jadi, kalau suatu hari ada yang bilang rumah bawah tanah itu cuma cocok buat film fiksi atau tempat berlindung dari perang, Coober Pedy punya jawaban yang cukup unik: di sana, bawah tanah justru adalah rumah—dan alasan utamanya adalah bertahan dari panas gurun sambil mengejar opal.